image

Aku menemukan tulisan ini disebuah grup FB (sebenarnya sudah pernah aku baca ditempat lain) dan aku berencana mengabadikannya diblog ini agar suatu saat tidak hilang dan bisa dibaca terus-menerus.
Pada saat aku mengedit tulisan ini, aku membacanya secara mendetail. Tanpa disadari mata ku berkaca-kaca membacanya.
Begitu mendalam sepenggal kisah ini hingga mampu meresap dalam hati.
Mungkin mata ku hanya berkaca-kaca namun sesungguhnya hati ku menangis terisak tersentuh oleh cerita ini.
Akhir kata semoga cerita ini bermanfaat buat para pembaca dan harapan ku akan bisa meningkatkan iman, meningkatkan kecintaan kepada kekasih Allah SWT, Rasulullah SAW dan juga memotivasi untuk menjadi pribadi yang baik dan lebih baik lagi.

Uwais Al-Qarni : Terkenal di langit, tetapi
tidak terkenal di bumi.

Dia seorang pemuda bermata biru, rambutnya merah, pundaknya lapang,kulitnya kemerah-merahan. Dagunya
menempel di dada karena selalu melihat pada tempat sujudnya.
Hidup sezaman dengan Rasulullah tetapi mereka tidak pernah bersua muka karena Uwais tinggal di Yaman.

Kerap membaca al-Quran dan selalu menangis tatkala membacanya. Pakaiannya hanya dua helai dan sudah kusut. Satu untuk penutup badan dan yang satunya digunakan sebagai selendang.

Siapakah dia di mata manusia. Tidak banyak yang mengenalinya, apatah lagi mengambil tahu akan hidupnya.
Banyak suara yang mentertawakan dan mempermainkannya. Ada yang menuduhnya sebagai pencuri.
Manusia mengumpat dan mencelanya karena kemiskinannya.

Uwais telah lama yatim, tiada sanak saudara, kecuali hanya ibunya yang telah tua dan lumpuh.
Sehari-hari, Uwais bekerja sebagai pengembala kambing. Upah yang diterimanya hanya cukup untuk menampung keperluannya bersama ibunya. Jika ada uang lebih, Uwais gunakan bagi membantu tetangganya yang juga hidup miskin sepertinya.

Uwais al-Qarni masuk Islam ketika seruan Nabi Muhammad S.A.W tiba ke negeri Yaman. Kesibukannya sebagai
pengembala dan merawat ibunya yang lumpuh dan buta, tidak mengurangkan ibadahnya walau sedikitpun. Dia tetap
berpuasa di siang hari dan bermunajat di malam harinya.

Ramai tetangganya yang telah memeluk Islam, pergi ke Madinah untuk mendengarkan ajaran Nabi Muhammad S.A.W secara langsung. Alangkah sedihnya hati Uwais apabila melihat setiap tetangganya yang baru pulang dari Madinah. Mereka itu telah bertamu dan bertemu dengan kekasih Allah penghulu para Nabi, sedang dia sendiri belum berkesempatan.

Kecintaannya kepada Rasulullah menumbuhkan kerinduan yang kuat untuk bertemu dengannya. Namun apa daya, dia tidak punya bekal yang cukup untuk ke Madinah. Apatah lagi ibunya sakit dan perlu dirawat uwais al-qarni.

Hari berganti hari, dan kerinduannya untuk bertemu Nabi tidak terbendung. Pada suatu hari Uwais mencurahkan isi hatinya kepada ibunya dan memohon izin untuk menziarahi Nabi S.A.W di Madinah.

Si ibu dengan rasa terharu meridhoi kepergian Uwais dan berpesan agar segera pulang.Dengan rasa gembira dia berkemas untuk berangkat. Dia tidak lupa untuk menyiapkan keperluan ibunya yang akan ditinggalkan serta berpesan kepada tetangganya agar menemani ibunya selama dia pergi.

Maka berangkatlah Uwais menuju Madinah yang berjarak lebih kurang 400km dari Yaman.
Medan yang begitu panas diarunginya. Dia tidak peduli penyamun gurun pasir, bukit yang curam maupun padang pasir yang luas yang dapat menyesatkan.
Semuanya dilalui demi bertemu dan dapat memandang sepuas-puasnya paras baginda Nabi S.A.W yang selama ini dirinduinya.

Namun setibanya Uwais al-Qarni di depan rumah Nabi, ‘Aisyah R.A mengatakan bahwa Nabi berada di medan perang.
Dalam hatinya bergolak perasaan ingin menunggu kepulangan Nabi S.A.W dari medan perang.
Namun masih terngiang di telinga pesan ibunya agar cepat pulang ke Yaman.

Atas ketaatan kepada ibunya, dia akhirnya pulang dengan hati yang pilu setelah menitipkan salamnya untuk Nabi S.A.W.
Sepulangnya dari medan perang, Nabi S.A.W terus menanyakan tentang kedatangan orang yang mencarinya.

Baginda menjelaskan bahwa Uwais adalah anak yang taat kepada ibunya.Walau tidak dikenali di dunia, namanya sangat terkenal di kalangan penghuni di langit sana.

Mendengar perkataan baginda S.A.W, ‘Aisyah R.A dan para sahabat terpegun. Menurut ‘Aisyah R.A memang benar ada yang mencari Nabi S.A.W dan
pemuda itu telah segera pulang ke Yaman, karena ibunya sudah tua dan sakit.

Rasulullah S.A.W bersabda: “Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia (Uwais al-Qarni), perhatikanlah, ia mempunyai tanda putih di tengah-tengah telapak tangannya.”

Sesudah itu Rasulullah S.A.W, memandang kepada sayyidina Ali K.W dan sayyidina Umar R.A dan bersabda:
“Suatu ketika, apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah doa dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit dan bukan penghuni bumi.”

Setelah wafat Nabi S.A.W, suatu ketika khalifah Umar dan Ali K.W. teringat akan sabda Nabi S.A.W tentang Uwais al-Qarni.
Sejak itu, setiap kafilah yang datang dari Yaman, mereka selalu bertanya tentang Uwais al-Qarni sehingga lah satu ketika
akhirnya mereka dipertemukan, bilamana Uwais al-Qarni turut bersama rombongan kafilah menuju kota Madinah.

Pada ketika itu ibunya pun telah wafat.Kesempatan itu diambil oleh Khalifah Umar dan sayyidina Ali K.W. memohon agar Uwais berkenan mendoakan untuk mereka sebagaimana pesan Nabi S.A.W.
Uwais enggan dan dia berkata kepada khalifah, “Sayalah yang harus meminta doa daripada kalian.”

Mendengar perkataan Uwais, Khalifah berkata, “Kami datang ke sini untuk mohon doa dan istighfar daripadamu”.

Karena desakan kedua sahabat ini, Uwais al-Qarni akhirnya mengangkat kedua tangannya, berdoa dan membacakan istighfar.
Setelah itu Khalifah Umar R.A berjanji untuk menyumbangkan uang negara daripada Baitulmal kepada Uwais, segera saja Uwais menolak dengan halus dan
berkata,”Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi.”

Setelah kejadian itu, nama Uwais kembali tenggelam dan tidak terdengar beritanya.
Beberapa waktu kemudian, tersiar kabar Uwais al-Qarni telah pulang ke rahmatullah.
Anehnya, pada saat dia akan dimandikan tiba-tiba sudah ramai orang yang berebut untuk memandikannya. Dan ketika dibawa ke tempat pembaringan untuk dikafani , disana sudah ada ramai orang yang menunggu untuk mengkafankannya.

Demikian juga ketika orang pergi hendak menggali kuburnya. Disana ternyata sudah ada ramai orang yang menggali kuburnya hingga selesai.
Ketika usungan dibawa menuju ke perkuburan, luar biasa banyaknya orang yang berebut untuk mengusungnya.

Kepergian Uwais al-Qarni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman.
Banyak terjadi hal-hal yang amat
mengherankan. Sedemikian banyaknya orang yang tidak kenal datang untuk mengurus jenazah dan pengebumiannya, padahal Uwais adalah seorang fakir yang tidak dihiraukan orang sewaktu hidup nya.

Mereka saling bertanya-tanya;
“Siapakah sebenarnya engkau wahai Uwais al-Qarni? Bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir yang tidak memiliki apa-apa?, Kerjanya hanyalah sebagai penggembala? Namun, ketika hari wafatmu, engkau telah menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenali. Mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya.”
Mereka adalah para malaikat yang diturunkan ke bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pengebumiannya.

Baru saat itulah penduduk Yaman mengetahui siapa sebenarnya Uwais al-Qarni.
“Dialah Uwais al-Qarni, tidak terkenal di kalangan penduduk bumi tetapi namanya sangat tersohor di langit sana.”

Posted from WordPress for Android

About Feri Awan

Nama ku Ragil Feriawan Hadinata Aku mempunyai cita-cita ingin menjadi seorang musisi dan seorang penulis...namun intuisi ku tak cukup untuk menggapainya...biarkan waktu yang akan mengajari ku untuk membaca dunia..

4 responses »

  1. muktideliver!^@gmail.com mengatakan:

    subhanallah sunggup mengharukan

  2. Alhamdulillah, semoga kita bisa menjadi pribadi seperti uwais yang tak pernah lupa akan jati dirinya. Subhanallah

Ayo.. ayoo... coment donk.. ditunggu yah.. ^_^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s