image

Diceritakan oleh ad-da`i ilallah Habib Jindan bin Novel bahwa suatu ketika di suatu kampung terjadi musim kemarau yang
berkepanjangan.
Akhirnya pemimpin kampung tersebut mengatakan mari kita ngumpul sholat istisqo` shalat minta hujan, kalau mau istisqo sunnahnya sebelum sholat istisqo berpuasa dahulu 3 hari. di hari ketiga dalam keadaan berpuasa mereka penduduk
kampung keluar semuanya.

Lalu berkumpullah orang-orang, tua, muda, lelaki, perempuan, anak-anak sampai hewan-hewan seperti kambing-kambing yang
kehausan diajak keluar. Memang sunnahnya demikian.
Lalu mulailah pemimpin kampung

sholat istisqo dan khutbah minta hujan kepada Allah subhanallahu wata`ala.

Biasanya langsung dikabulkan namu hujan tidak turun juga.
Lalu diulangi lagi ritualnya, hari kedua, lalu berkumpullah lebih banyak dari hari pertama.
Mulailah sholat dan berkhutbah dengan linangan air mata, tidak turun hujan juga, gagal lagi

Ulangi lagi di hari ketiga, puasa lagi 3 hari dihari ketiga dalam keadaan berpuasa , dengan
segala hal telah dilakukan agar hujan turun, lebih khusuk, lebih bersemangat lebih hudur, dengan sunnah-sunnahnya namun gagal lagi hujan enggak turun juga. Sudah berbagai cara
enggak turun hujan juga.

Di hari ketiga, tiba-tiba ada satu orang baru datang dan bertanya kepada penduduk kampung, “hei kalian mau kemana nih?,  habis sholat istisqo udah 3 kali gagal terus enggak turun-turun nih hujan.
ooh gitu ya..ya sudah..mari mari sini kumpul.
3 kali kalian doa minta hujan enggak turun-turun hujan juga.
Ana do’ain, kalian cukup meng-Aminkan saja.
baiklah, udah 3 kali kita gagal, coba lihat apa yang di mau orang ini,” kata penduduk
kampung.

Maka berdoalah orang tersebut :
ALLAHUMMA..
maka penduduk kampung menjawab : Amiin
hei belum.. dengerin dulu.

Maka berdoalah orang tersebut : “ALLAHUMMA BIHAQQI MAA FII RAAS`ASALUKA ANTASQIYANNAAS
“Wahai Allah, saya minta demi yang ada di KEPALA saya , turunkan hujan kepada orang –
orang.”

Penduduk kampung bengong mendengar, kok do`anya begitu, mau bilang amin bengong, melongo`..ada apa di kepalanya.

Maka hei penduduk kampung katakan : AMIIIIN
maka penduduk kampung berkata : AMIIN, namun masih bingung ada apa di kepalanya.

Tidak lama awan berkumpul lalu turunlah hujan saat itu juga Penduduk kampung heran, heran dengan do`anya, ada apa di kepalanya, dan di kabulkan
lagi itu do`a, hujan benar-benar turun dengan derasnya. Ada apa sih di kepalanya?.

Maka bertanyalah penduduk kampung:
memang dikepala ente ada apanya ?
Maka berkata orang tersebut : di kepala saya ada dua bola mata yang pernah melihat wajahnya ABU YAZID ALBUSTHOMI..Wali
besar.
Berkat bolamata yang pernah melihat wajah WALIYULLAH Abu Yazid Al-Busthomi seorang Wali besar maka Allah turunkan
hujan.
Yasalam Gimana kalau Abu Yazid Al-busthominya seorang pemimpin para wali dizamannya min kibaril auliya` sendiri.
Orang yang pernah melihatnya , sampai sebegitu kedudukannya di sisi Allah subhanallahu wata`ala.

Maka berkata al Imam Muhdor ibn Syeikh Abu Bakar bin Salim :
“DEMI ALLAH , SAYA TIDAK RIDHO` jika ada murid-murid saya derajatnya lebih rendah dari Abu Yazid Al busthomi.
Murid beliau yang paling rendah derajatnya lebih tinggi dari Abu Yazid Al busthomi.

Masya Allah
Beginilah Salafunasholih yang kita punyai luar biasa.
Bagaimana kisahnya?

Saat itu di majlisnya al Habib Idrus bin Umar menceritakan tentang manaqib syeikh Abu
Yazid albusthomi, tentang akhlaknya, pangkat kewaliannya dan bla-bla..bla..
Maka para hadirin merasa takjub dan ada seorang berkata di hatinya : Masya Allah ..sungguh luar biasa Kewalian Syeikh Abu Yazid albusthomi , sepertinya di muka bumi , di bumi hadralmaut enggak ada WALI ALLAH yang seperti Kewalian Syeikh Abu Yazid Al busthomi, lebih hebat dari syeikh Abu Yazid albusthomi,
baru saja dalam hatinya mikir demikian, orang tersebut tiba-tiba di kasyaf oleh al Habib Idrus bin Umar dan berkata : Tahu enggak kalian?
“Sesungguhnya kewalian syeikh abu yazid al-busthomi yang di dapatkan dari Allah itu tidak
menyamai dengan DEBU yang ada di telapak kakinya al Imam Habib Abdurrahman Asseggaf”

Masya Allah, dapat kewalian yang tinggi dari Allah. Artinya PARA AULIA DI BUMI
HADRALMAUT yang kita punya memiliki pangkat kewalian yang besar.
Bila ada satu orang saja di suatu negeri Wali Allah seperti al Imam al Habib Abdurrahman
Asseggaf, maka sudah cukup, namun di hadralmaut berkumpul para aulia besar.
Beruntunglah suatu kaum yang Allah ridho dengan ridhonya para Aulia, bila mereka murka maka Allah pun murka.
Duduk dengan para shalihin nikmat.
Semoga semakin menambah keimanan, kecintaan kita kepada para Aulia, kaum shalihin, meneladani akhlak mereka, mengikuti jalan mereka, mengamalkan semampu kita
yang bisa kita amalkan.
Wallahu`alam

Dikutip dari Ahmad Darobi As-Sayuti

Posted from WordPress for Android

About Feri Awan

Nama ku Ragil Feriawan Hadinata Aku mempunyai cita-cita ingin menjadi seorang musisi dan seorang penulis...namun intuisi ku tak cukup untuk menggapainya...biarkan waktu yang akan mengajari ku untuk membaca dunia..

Ayo.. ayoo... coment donk.. ditunggu yah.. ^_^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s