image

Anakku, serpihan kisah akhlak Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam manakah yang membuatmu haru dan menangis? Kuharap, anakku, tangis itulah yang bisa menjadi saksi di akherat kelak bahwa engkau merindukan beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Airmata rindu….
Mana, manakah anakku, kisah yang membuatmu menangis?, Apakah ketika Baginda Rasulullah ShallAllahu ‘alaihi wasallam yang dilempari batu dan kotoran oleh penduduk Thaif tapi beliau menolak tawaran Jibril yang mau memporak-porandakan seisi kota?,

Atau cerita saat beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam menolong Abu Lahab yang terperosok lubang jebakan bikinannya sendiri, padahal lubang mengerikan itu ditujukan untuk mencelakakan keponakannya yang mulia tersebut?

Atau saat beliau ShallAllahu ‘alaihi wasallam menjenguk seseorang yang setiap hari melempari beliau dengan kotoran, kisah yang mana anakku?

Atau kesabaran beliau menghadapi blokade dan embargo kaum Quraisy Itukah??

Mungkin engkau suka kisah lain, tatkala manusia mulia itu dengan tangannya sendiri menambal pakaiannya yang robek, memperbaiki sandalnya sendiri, beristirahat di atas alas yang kasar, dan tiada pernah merepotkan sahabat-sahabatnya?

Atau cerita ketika Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengganjal perutnya yang lapar dengan kerikil yang diikat sehelai kain, hingga para sahabat menyangka itu bunyi gemeretak persendian beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam?

Kisah yang mana yang kau suka, buah hatiku?
Apakah kisah lain saat Rasulullah ShallAllahu ‘alaihi wasallam mencium tangan tetua kaum Anshar yang telapak tangannya mengeras gara-gara mencari nafkah?

Atau, saat beliau ShallAllahu ‘alaihi wasallam yang kakinya membengkak dengan ketekunan ibadah malamnya, saat ditanya oleh Sayyidatuna Aisyah RadliyAllahu ‘anha beliau menjawab, “duhai kekasihku, salahkah aku bila menjadi hamba yang senantiasa bersyukur?”

Inikah kisah yang menggetarkan hatimu, atau kau ingat kisah manakala berangkat ke medan perang beliau sengaja membelokkan rute pasukan karena tidak mau mengganggu keasyikan anjing yang sedang menyusui anaknya?

Atau tentang akhlak beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam yang dengan telaten menyuapi seorang Yahudi sepuh yang buta dan selalu mencaci maki junjungan kita itu?

Meskipun sejujurnya ayahmu ini belum menjumpai kisah tersebut dalam versi yang valid di sirah nabawiyah. Atau kisah lain manakala Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tiba-tiba dicelakai seorang Yahudi hingga nyaris terjungkal, dan manusia agung itu mencegah Sayyidina Umar yang mau menindak tegas Yahudi kurang ajar itu?

Atau kisah bagaimana pria yang senantiasa menampilkan wajah tersenyum menyenangkan itu memberikan amnesti massal ketika Fathu Makkah yang oleh sahabat beliau disebut “Yaumul Malhamah” lalu direvisi beliau menjadi “Yaumul Marhamah”?
Aduh, dalam peristiwa pembebasan kota mulia ini, bukankah kita juga ingat Hindun bint Utbah yang menjadi kanibal dalam Perang Uhud dengan mengunyah jantung Sayyidina Hamzah dan membuat junjungan kita sangat sedih, tetapi beliau juga memberikan amnesti kepada wanita perkasa itu dan memuliakan Abu Sufyan, yang loyalitasnya kemudian teruji dalam Perang Hunain?

Kasih sayang, anakku, inilah ajaran dari manusia agung itu. Rekonsiliasi akbar dalam Pembebasan Makkah…
Bagaimana anakku, sudah kau temukan kisah yang membuat sepasang matamu menganak sungai?

Mungkin saja kau suka membaca bait kisah tentang Sayyidina Abu Bakar yang dengan setia mendampingi beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam saat hijrah dan dengan gerakan yang khas beliau mendampingi Baginda Shallallahu ‘alaihi wasallam di kanan, kiri, depan dan belakang demi melindungi junjungannya itu?

Atau ketika ayahanda ummul mukminin Aisyah Radliyallahu ‘anha itu bersama Sayyidina Umar bin Khattab; ayahanda Sayyidatuna Hafshah, itu menahan tangis saat melihat kesederhanaan kehidupan manusia termulia itu, meski kunci perbendaharaan Barat dan Timur tergenggam di tangannya?

Atau, ah ini yang membuat kita iri anakku, ketika Sayyidina Ukasyah bin Mihsan yang dengan cerdik nan dramatik disertai alasan qishash bisa mencium tubuh mulia baginda Muhammad ShallAllahu ‘alaihi wasallam itu. Kau ingat cerita ini? Kuulangi sekali lagi, Sayyidina Ukasyah yang bisa memeluk dan mencium tubuh manusia termulia itu. Aduhai, begitu mengharukan…..

Bagaimana, apa tentang Sayyidina Bilal yang memilih berjaga di ribath di Syam dan tak mau lagi menjadi muadzin gara-gara setiap kali ia mengumandangkan adzan, suaranya tercekat tak mampu melanjutkan kalimat “Asyhadu Anna Muhammad Rasulullah” saking rindunya beliau pada Abul Qasim Muhammad ShallAllahu Alaihi wasallam…

Sudah anakku? Kau sudah menemukan serpihan Sirah Nabawiyah yang membuat bolamatamu mengembun? Temukan, anakku, karena tangismu itu menjadi bukti dan bola matamu menjadi saksi di akherat kelak, bahwa engkau merindukan Baginda Rasulullah Muhammad ShallAllahu ‘alaihi wasallam..

About Feri Awan

Nama ku Ragil Feriawan Hadinata Aku mempunyai cita-cita ingin menjadi seorang musisi dan seorang penulis...namun intuisi ku tak cukup untuk menggapainya...biarkan waktu yang akan mengajari ku untuk membaca dunia..

Ayo.. ayoo... coment donk.. ditunggu yah.. ^_^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s