Tulisan ini saya dapat dari group FB sahabat maiyah, semoga bermanfaat dan dapat diambil pelajarannya.

.Belajar Tawadhu’

“Akan lebih baik bagimu menganggap setiap orang lebih baik darimu”

::: TWEET JUM’AT, Gus Mus :::

Ada sebuah kisah. Tak usah anda tanyakan shahih ataukah dhoif. Fakta atau rekayasa. Saya berharap dengan membaca kisah ini, kita bisa belajar tawadhu’ dan rendah hati. Sehingga tidak mudah menyalahkan orang lain. Lebih banyak bercermin dan mengoreksi kekurangan diri dan tidak sibuk mencari-cari kesalahan orang lain.

Dalam acara “Sampak Gusuran” yang saya lihat di you tube. Habib Anis Sholeh Ba’asyin menceritakan kisah yang diperolehnya. Konon ada seorang ‘alim yang ‘ariif memiliki seorang anak yang sangat cerdas dan shalih. Ilmu apa saja yang diberikan, dapat diserap dengan cepat. Suatu ketika ia ingin menguji kemampuan anaknya.

Ayah : Anakku, aku lihat pengetahuanmu sudah berkembang demikian pesat. Pengetahuanku hampir berpindah secara utuh olehmu. Sekarang aku ingin kau pergi dari rumah ini. Berkelanalah ! Carilah makhluk Allah yang paling buruk. Bawalah makhluk Allah itu pulang. Sebelum kau membawa makhluk Allah yang menurutmu terburuk ! Engkau jangan sekali-kali pulang !

Anak : Baiklah. Mohon doa restu Ayah.

Sang anak pun berjalan meninggalkan rumah. Menyusuri jalan demi jalan. Singgah dari satu desa ke desa. Dari satu kota ke kota. Ia terus mencari-cari makhluk terburuk untuk dibawa pulang. Langkah kakinya terhenti ketika melihat rumah seorang wanita jelita. Ada yang unik, sang wanita ternyata dikelilingi oleh banyak laki-laki. Penampilan sang wanita pun demikian menggoda. Aurat yang seharusnya tertutup tersingkap dan bisa jadi sengaja disingkapkan. Dari beberapa suara-suara yang masuk ke telinganya, tahulah ia bahwa wanita itu adalah pekerja seks komersial, pelacur.

Melihat pemandangan di depan matanya sang anak tersenyum dan membatin, ”inilah makhluk Allah yang paling buruk. Karena dia rumah tangga orang bisa hancur berantakan. Karena dia iman seseorang tergadai. Dialah sumber masalah. Inilah makhluk terburuk yang harus saya bawa pulang”.

Perlahan-lahan sang anak mendekati kediaman pelacur. Baru beberapa langkah ada suara dari dalam hatinya. “wanita itu memang pelacur. ia memang buruk. Tapi bisa jadi suatu saat ia bertaubat dan menjadi muslimah patuh dan taat kepada Allah. Keburukannya akan sirna dan catatan-catatan kebaikannya akan terus beranak pinak. Bukankah banyak orang-orang di masa lalu ahli maksiat tapi di tengah jalan mendapatkan hidayah dan berahir husnul khatimah ?”.

Menyadari nasehat hatinya. Ia urungkan langkah kakinya dan kembali menyusuri semesta mencari makhluk Allah yang terburuk. Ia temukan orang-orang yang dalam pandangan masyarakat buruk karena berperilaku menabrak norma agama, norma susila, dan norma hukum. Ada koruptor, pencuri, penjudi, pemerkosa, dan seterusnya. Setiap kali hendak membawa mereka pulang, hatinya selalu mengingatkan dengan nasehat serupa.

Sang anak hampir saja putus asa. Kalau tidak menemukan makhluk terburuk, berarti dia tidak akan pernah kembali ke rumahnya. Di tengah rasa putus asa yang menindih kesadarannya, seekor anak anjing buduk lewat di depannya. Kondisi anjing yang demikian buruk membuat sang anak berjingkrak bahagia. Ia seperti menemukan permata. “pasti inilah makhluk yang paling buruk. Mana ada makhluk yang lebih buruk darinya ?”. Segera dipungutlah anjing itu. Di bawanya pulang. Tinggal beberapa meter dari dari rumah, terdengar suara nuraninya, “apa salah anjing itu ? Kenapa kau anggap dia sebagai makhluk yang paling buruk ? Bukankah dia tak meminta terlahir seperti itu ? Ia menjalani fitrah yang ditakdirkan Penciptanya ! Ia sama seperti dirimu yang harus menjalani peran sebagaimana keinginan Sang Dalang, Allah !”

Mendengar suara hatinya, sang anak berhenti. Ia pandangi anjing buduk ditangannya. Ia tersenyum dan berkata, “anjing maafkan aku, aku telah menuduhmu sebagai makhluk yang hina dina”. Anjing pun dilepaskannya. Meski tak membawa apa-apa, sang anak tetap melangkahkan kaki. Kembali pulang. Ayahnya telah menunggu kedatangannya !

Ayah : Apakah kau berhasil membawa makhluk yang paling buruk ?

Anak : Ya.

Ayah : Mana ?

Anak : Akulah makhluk terburuk itu ?

Ayah : Bagaimana kau bisa berkata demikian ?

Anak : Ayah. Semua orang yang saya lihat buruk, menyimpan kemungkinan untuk berubah menjadi baik. Sementara saya hanya asik melihat keburukan orang lain dan lupa melihat keburukan diri saya. Karena itulah, saya mengambil kesimpulan bahwa selama saya asik melihat kejelekan orang lain, kesalahan orang lain, keburukan orang lain, dan tidak melihat keburukan saya sendiri. Maka sayalah orang terburuk itu !

Ketika membaca kitab karya argumentator Islam, Imam Ghazalie yang berjudul “Ayyuhal Walad” saya temukan sebuah nasehat dari Rasulullah saw :

حَاسِبُوا اَنْفُسَكُمْ قَبْلَ اَنْ تُحَاسَبُوا

“hisablah, koreksilah dirmu sebelum kau dihisab”

Sepemahaman saya yang cetek atau dangkal ini, Rasulullah saw mengajak, menyerukan, menghimbau untuk lebih banyak melihat ke dalam diri sendiri sekaligus mengurangi melihat keburukan demi keburukan orang lain. Semakin banyak “bercermin” akan semakin banyak menemukan cacat-cacat, kejelekan-kejelekan, dan kekurangan-kekurangan diri. Dengan demikian tidak terbuka peluang untuk metani, mencari-cari kesalahan orang lain. Andaikata sesekali waktu melihat kekurangan orang lain, hati dan akal sehat langsung merespon dan mengingatkan bahwa kekurangan dan kebusukan pun melekat dalam diri sendiri.

Ketika menulis catatan sederhana ini saya teringat dengan buku Mas Doni Febriando yang berjudul, “Kembali Menjadi Manusia”. Dalam buku Mas Doni tersebut terdapat satu bab yang membahas tentang kepribadian tiga wali kutub. Satu dari ketiganya yang diurai adalah akhlak Sulthonul Auliya’ Syaikh Abdul Qodir Al Jaelani. Suatu hari beliau bercerita kepada santri-santrinya tentang perasaan yang bergejolak. Syaikh Abdul Qodir berkata, “Kalau aku bertemu orang lain, aku selalu berkata dalam hati bahwa orang itu lebih baik daripada diriku. Saat bertemu anak kecil, aku selalu membatin bahwa anak kecil itu belum pernah bermaksiat kepada Allah SWT. Saat bertemu orang tua, aku membatin bahwa orang tua itu telah lama beribadah kepada Allah SWT. Saat aku bertemu orang awam aku selalu membatin bahwa orang itu bermaksiat hanya karena bodoh, sementara aku tetap bermaksiat walaupun tahu akibatnya. Saat bertemu orang kafir, aku selalu membatin bahwa aku tidak tahu jalan hidup manusia. Bisa jadi ujung usianya dia jadi orang saleh, sementara aku malah jadi orang kafir di kemudian hari”. Andai kita terbiasa melihat ke dalam diri, bermuhasabah, dan mengaca, serta banyak menemukan kekurangan diri. Ah, bisa jadi ragam pertikaian tak akan terjadi. Ketika kita melihat kesalahan orang lain, kita memiliki ruh kesadaran seperti melihat keburukan dalam diri sendiri. Peradaban yang tercipta di kemudian hari adalah peradaban memperbaiki diri sendiri bukan mengorek-orek kesalahan orang lain.

Tapi jika budaya yang dibangun adalah melihat ke luar, melihat kebusukan orang lain dan mengabaikan borok-borok diri sendiri, maka akan lahir rasa sombong. Terlebih jika merasa diri lebih sempurna dalam berbagai hal. Lebih pandai atau cantik. Lebih kaya dan terhormat. Lebih pandai dan berpengaruh. Maka pohon kesombongan akan tumbuh semakin subur. Dan buah demi buah kesombongan yang busuk akan terlihat dan terasa memuakkan.

Bagi yang mengikuti you tube Maiyahan pasti ingat dengan cerita Cak Nun yang menyentil sekaligus mengingatkan untuk tidak sibuk mencari-cari kesalahan orang lain. Waktu itu, ada seorang penanya yang mencoba mengorek-orek masalah jilbab. Objek yang ingin dijadikan sasaran adalah Syarifah Najwa Shihab, putri Pak Quriash Shihab. Kebetulan, Syarifah Najwa tidak berkerudung. Dengan enteng Cak Nun mengingatkan untuk tidak sibuk mengurusi kejelekan orang lain. Kecuali jika mampu mengingatkan dan memperbaiki kejelekannya. Kalau tidak mampu lebih baik diam. Apalagi jika tidak mampu memperbaiki tapi justru menyebarkan keburukan orang lain !

Saya yakin setiap orang menyimpan pengalaman rasa muak saat berhadapan dengan orang yang sombong dan sok suci. Untuk mendeteksi tingkat kesombongan seseorang sebenarnya cukup mudah. Biasanya kesombongan bercampur dengan kebohongan atas sesuatu yang tidak dilakukan. Kalimat semacam “kalau tidak karena aku” akan terdengar berkali-kali. Dan sesekali coba hitung berapa kalimat “aku” yang meluncur deras dari lidahnya. Semakin banyak “aku” dan kalimat serumpun yang menggiring kita untuk mengakui kelebihan dan keunggulannya, di sanalah benih kesombongan mulai tumbuh.

Barangkali di antara kita pun ada yang sesekali atau bahkan berkali-kali menjadi pribadi yang congkak. Sekali lagi, sikap congkak, angkuh, takabbur, sombong, dan entah apalagi namanya bercokol karena ada perasaan lebih dalam diri dan melihat kekurangan orang lain. Saya pun pernah mengalami. Dan, ternyata mengerem atau berusaha mengekang nafsu untuk tidak berlaku angkuh itu sulitnya seperti menahan kentut yang sudah diujung dubur. Sama persis dengan susahnya menahan tidak riya’ !

Karena demikian memuakkan dan busuknya aroma kesombongan. Allah SWT pun tak menyukai para hamba yang berperilaku sombong. Bagi Allah, tak ada satupun makhluk yang layak untuk berperilaku sombong, karena yang layak berperilaku sombong adalah Dia. Sebab Dia-lah yang memiliki kesempurnaan. Dan kesombongan adalah –sebagaimana pernah saya baca dalam hadits qudsi- pakaian Allah. Dalam Al Quran makhluk-makhluk yang berperilaku sombong mendapatkan akibat dari kesombongannya. Iblis harus menerima konsekwensi kehilangan jabatan sebagai penghuni surga ketika menolak “bersujud” kepada Nabi Adam as. Iblis yang dengan pongah berkata :

خَلَقْتَهُ مِنْ طِيْنٍ وَخَلَقْتَنِيْ مِنْ نَارٍ

“Kau ciptakan ia dari tanah dan Kau ciptakan aku dari api. Bagaimana mungkin api yang lebih kuat dan dahsyat harus mengakui kedigdayaan tanah” mungkin demikanlah argumentasi Iblis. Musa as pun pernah “dihukum” karena merasa dirinya sebagai makhluk yang paling cerdas. Kecerobohannya membuat Allah memerintahkan untuk mencari salah satu hamba Allah yang cerdas dan tawadhu’, Khidhir as. Ketika bertemu dengan Khidhir as dan berguru kepada Khidir as, Musa as baru menyadari bahwa di atas langit masih ada langit. Ada orang-orang tersembunyi yang menyimpan potensi kecerdasan dan kehebatan di atas dirinya. Lebih jauh silahkan baca surat Al Kahfi, ayatnya silahkan cari sendiri. Dan tanyakan pada kiai yang mumpuni bukan yang asal dipanggil kiai.

Semoga kita terus bisa merunduk dan lebih banyak melihat kesalahan, kekurangan, kebobrokan, dan gunungan dosa dalam diri. Sehingga tidak uwil (sibuk) mencari-cari kesalahan orang lain.

About Feri Awan

Nama ku Ragil Feriawan Hadinata Aku mempunyai cita-cita ingin menjadi seorang musisi dan seorang penulis...namun intuisi ku tak cukup untuk menggapainya...biarkan waktu yang akan mengajari ku untuk membaca dunia..

Ayo.. ayoo... coment donk.. ditunggu yah.. ^_^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s